Monday, July 9, 2012

Wis tak siapke laser



From: widinetwork

Sayang ora nonton ning GBK.....:d

Sunday, July 8, 2012

Bambang: Demokrat Bingung Sendiri



From: hernawan w

Usut Mafia Pajak
Bambang: Demokrat Bingung Sendiri
Penulis: Inggried Dwi Wedhaswary | Editor: I Made Asdhiana
Kamis, 27 Januari 2011 | 19:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu inisiator Pansus Hak Angket Perpajakan asal Fraksi Partai Golkar, Bambang Soesatyo menuding Partai Demokrat tak serius mengusut dugaan mafia perpajakan. Alasan salah satu inisiator Demokrat, Soetjipto, bahwa mereka merasa dikerjain partai lainnya, dinilai Bambang tak berdasar.

Soetjipto, dalam pernyataan persnya hari ini menyebutkan adanya pembelokan tujuan dari Pansus Hak Angket Perpajakan. "Dikerjai siapa? Wong, seluruh konsep dan inisiatornya mereka (Demokrat). Alasan itu hanya alasan akal-akalan saja. Yang benar sesungguhnya Demokrat tidak serius alias gertak sambal," kata Bambang kepada Kompas.com, Kamis (27/1/2011).

"Begitu fraksi yang lain setuju, Demokrat kebingungan sendiri," lanjut anggota Komisi III ini.

Bambang menduga, perubahan sikap Demokrat mengindikasikan adanya upaya mengaburkan terbongkarnya mafia pajak yang sesungguhnya. "Apanya dibelokkan? Jalan juga belum. Kita bicara mafia pajak. Kalau cari alasan yang masuk akal lah," kata Bambang.

Delapan orang inisiator hak angket asal Fraksi Partai Demokrat secara resmi mundur sebagai pengusul. Padahal, usulan yang disampaikan awal pekan ini sudah akan dibahas oleh Pimpinan DPR dan diputuskan di rapat paripurna pekan depan. Dengan mundurnya pengusul dari Demokrat, maka usulan inisiasi hak angket tidak memenuhi syarat yaitu diusulkan oleh 23 anggota DPR.

--

Epi Tahu dan Menunggu


From: dewanto

Siapa kita sesungguhnya, dapat dilihat dari bagaimana kita menghadapi sakit.
Epy Kusnandar mengerti benar hal itu.

Ketika kanker otak mendera, wajah sedih memang masih tampak di wajah yang
dia hiasi senyum itu, tapi bukan raut yang putus asa. Dia masih gembira,
banyak tertawa, dan mampu mengirim lelucon, yang bahkan seperti mengejek
sakitnya. Sakit, bagi lelaki yang acap bermain sinetrom komedi itu,
barangkali semacam terminal, untuk mencapai hidup yang lebih. Dengan bahasa
sederhana, dia mengatakan itu, seperti dikutip ''Insert'' Selasa (25/1)
lalu. ''Jika saya masih bisa merayakan ulang tahun ke-47 Mei nanti, saya
optimis untuk sembuh. Mei itu sudah batas waktu empat bulan vonis dokter,''
katanya sembari tertawa. ''Pemirsa, sampai jumpa tanggal 1 Mei ya....''

Sakit, seperti hidup, adalah sesuatu yang terberi. Datang begitu saja. Kita,
acap kali, tak bisa mengelak, bertanya, apalagi menggugat. Hanya menerima.
Kadang tanpa musabab, tak tahu asal.

''Tidak tahu <I>gimana</I>, tiba-tiba dia sering pusing dan muntah-muntah.
Kadang sampai pingsan. Setelah itu baru dibawa ke dokter,'' jelas Karina
Ranau, istrinya.

Dan karena itu, sebenarnya, sakit bukanlah sesuatu yang harus disesali,
ditolak, apalagi disedihkan. Bahkan, dalam perspektif Nietzscean, sakit
adalah kesempatan untuk konsolasi, peluang untuk menemukan hal baru dalam
kehidupan. Sakit tak memerlukan kambing hitam, atau penyalahan atas sesuatu
yang menimpa kita. Kebutuhan akan kejelasan dan pencarian kambing hitam atas
sakit, bagi Nietzsche, adalah cara berpikir yang sakit. Cara berpikir
semacam itu, membuat si sakit menemukan kompensasi yang tak benar. Makanan,
udara, apa pun, bisa disalahkan, meski hal yang sama tak berpengaruh apa-apa
pada orang lain. Cara berpikir yang sakit ini, selalu mencari kambing hitam,
pada titik ekstem, juga akan ''menyalahkan'' Tuhan.

''Barangkali ini cara Tuhan menegur saya,'' kata Dinda Kanya Dewi, ketika
wajahnya terluka akibat kecelakaan mobil.

''Ini cobaan Tuhan,'' ucap Bunga Citra Lestari, ketika dirawat karena
lambungnya bermasalah.

''Musibah ini barangkali cara Tuhan memanggil saya untuk kembali dekat
pada-Nya,'' kata Sammy, mantan vokalis Kerispatih, saat tersangkut narkoba.
Tapi Epy, sejauh saya ikuti dalam berbagai berita, tak sekalipun dia
mengatakan sakit itu sebagai teguran atau cobaan. Dia meletakkan sakit
sebagai fase ''tetirah'', berhenti sebentar, terminal, untuk menemukan arah,
tujuan, jalan, yang lebih baik. ''Allah pasti akan beri jalan kalau saya
terus berusaha,'' yakinnya.

Bahkan, sakit itu dia anggap tantangan. ''Jadi saya akan terus berjuang
melawan sakit ini.''

Sakit harus diterima dengan kegembiraan dan rasa mabuk untuk sembuh. Tirani
sakit dengan demikian hanyalah jalan yang disodorkan kehidupan sebagai
tempaan. Maka, sakit pun harus dihadapi secara personal, untuk ''menemukan
dan menumbuhkan'' gizi spiritual. Kita tidak membiarkan dihancurkan dan
dihanyutkan oleh rasa sakit, tapi mengolah diri melampaui rasa sakit itu,
dan menerima kesembuhan sebagai hal yang biasa.

Di titik itulah, Epy memberi tekanan. ''Lewat pengobatan alternatif,
syukur-syukur bisa sembuh, dan tambah ganteng,'' katanya, sembari tertawa.

Dia menerima sakit itu sebagai sesuatu yang ''rahasia'', tak terelakkan, dan
dengan demikian, sembuh pun bukan sesuatu yang luar biasa. Rasa syukur dia
tujukan bukan pada harapan akan lahirnya kesembuhan, tapi lebih, meski
mungkin canda, kemungkinan untuk jadi ganteng. Inilah cara penerimaan yang
rileks, bersahabat, sakit adalah bagian dari tubuh, dan dengan demikian,
bukan ''indikasi'' kehadiaran Tuhan dengan wajah yang marah, menegur, atau
memberi cobaan.

Dalam tahap itulah, sakit tetap membuat Epy berpikir sehat. Tak ada
penyalahan. Menerima kondisi, bagi Epy, adalah obat pertama. Karena itu
juga, jika pun tak sembuh, dia tak cemas. ''Umur di tangan yang kuasa.
Akhirnya saya bangkit dan tetap berkarya saja, daripada ikutin omongan
dokter. Dokter bukan Tuhan, ya sambil nunggu sembuh, saya menulis,"
tegasnya.

Titiek berobat, dan dia menunggu sembuh. Ini juga sikap yang sama dengan
penerimaannya pada sakit, tidak menyerah, tapi bukan merasa pasti. Epy
menunggu, menerima situasi apa pun yang terjadi padanya. Sakit dan sembuh,
sehat atau dipanggil, adalah bagian yang terberi, tak harus dielakkan.

Berada dalam derita sakit, bagi Epy, barangkali adalah seperti pertapa
ketika kali pertama membuka mata, dan melihat realitas dengan sudut pandang
baru, begitu memesona. Pertapa yang bangun dari ikhtiar panjang, dari
perjalanan batin yang luas, untuk bergerak dalam kenyataan.

''Dokter itu bukan Tuhan...'' katanya. Epy menyadari, hidup, dan juga usia,
bukanlah persoalan matematika, yang bisa dipastikan segera detik dan jamnya.
Selalu ada misteri, yang tak terbaca manusia, juga teknologi. Epy percaya
pada misteri itu, pada harapan, pada doa, dan juga usaha. Selebihnya, dia
cuma menunggu.
http://curipandang.com/baca/2011/01/27/epy-tahu-dan-menunggu.html

--

Sunday, July 1, 2012

Persiapan Pengendalian BBM Minim


From: hernawan w

Penulis: Evy Rachmawati | Editor: R Adhi KSP
Kamis, 27 Januari 2011 | 19:37 WIB

Kompas.com/Zulkifli BJ ILUSTRASI:
Kurtubi menuturkan, subsidi yang justru digunakan pemerintah adalah selisih harga pasar Internasional dan harga jual dalam negeri sehingga pemerintah seolah-olah terlihat rugi.
1

JAKARTA, KOMPAS.com - Romahurmuziy, anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PPP menyatakan, pemberlakuan pengendalian bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi merupakan bentuk koreksi terhadap pola subsidi yang tidak tepat sasaran selama ini. Namun persiapan pemerintah dinilai terlalu sunyi.   

Pemerintah seharusnya segera menyelesaikan kajian menyeluruh dan melaporkannya ke DPR, kata Romahurmuziy, Kamis (27/1), di Jakarta .  

Sejauh ini persiapan pemerintah dalam melaksanakan pengendalian volume bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi masih minim. Salah satunya adalah, belum ada kesiapan sosialisasi pada warga yang dialihkan produknya padahal mereka yang terkena dampaknya secara ekonomi dan sosial.   

Kesiapan petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dalam identifikasi kendaraan yang berhak menerima subsidi juga belum jelas sampai sekarang, apakah seluruh pelat kuning atau ditambah dengan sebagian pelat hitam, ujar Romahurmuziy menambahkan.  

Selain itu kesiapan barang substitusi premium, dalam hal ini Pertamax, dinilai terburu-buru dalam mewacanakannya padahal ternyata ada produk alternatif yakni vigas atau bahan bakar gas cair yang hanya Rp 3.600 per liter setara premium tanpa subsidi. Sampai saat ini baru ada 17 SPBU yang mempunyai dispenser vigas.  

Di Argentina, misalnya, negara memfasilitas vigas sebelum melaksanakan konversi. Hasilnya, sekarang sekitar 80 persen dari transportasi darat di Argentina sudah beralih ke bahan bakar gas cair. Sementara Pertamax masih terus naik harganya sehingga rawan memukul ekonomi masyarakat yang tidak lagi bisa membeli BBM bersubsidi.  

Pihaknya tidak melihat tanda-tanda persiapan bagaimana mengantisipasi pasar gelap BBM secara teknis, agar angkutan kota tidak berubah dari mengangkut penumpang jadi pengangkut BBM. A ntisipasi dampak terhadap usaha kecil dan menengah pelat hitam pengguna transportasi juga belum ada, misalnya memberi kemudahan mengalihkan UKM pelat hitam pengguna pick-up dan mobil box, kata dia.  

Pemerintah juga belum mempersiapkan dampak pengendalian BBM bersubsidi itu terhadap inflasi. Dengan harga BBM non subsidi hampir dua kali dari BBM bersubsidi, maka hal itu dikhawatirkan akan memukul daya beli dan pertumbuhan nasional, ujarnya menambahkan.

--

INSPIRASI MALAM TONIGHT with Ir. SULFAS ERTSANTO MBA



From: Gagah Mursito Adi

INSPIRASI MALAM TONIGHT with Ir. SULFAS ERTSANTO MBA
Topic  : Ketahanan jiwa dan fisik
22.00 - 24.00 WIB
Tune in 92.6 FM Radio Idola Semarang / live streaming www.radio-idola.com
Host : Okty Rahardjo - Gerry M Adi
Music : Golden Hits to Remember 

Mateng Siji..

From: tommihernowo@gmail.com

Lumayan ...barusan nemu mateng pohon siji ...

Wis dho muli


From: "widinetwork" <twidiarto@gmail.com>

@widiarto_srg