Monday, September 3, 2012

sebuah pergulatan tanpa marka, sebuah perlombaan sampai mati di tengah jalan di malam hari


From: <syauqiyahya@gmail.com>



Senin, 16 Juli 2012

Dissensus

Ada sejumlah larut malam Jakarta, ada beberapa sudut kota yang belum sepi, ada puluhan laki-laki, umumnya laki-laki, yang duduk di atas sadel sepeda motor yang diparkir berjajar sepanjang satu kilometer. Di tepi jalan itu, di tempat yang tak sepenuhnya terkena cahaya lampu, mereka tampak menantikan sesuatu yang eksplosif akan terjadi.

Dan yang eksplosif, atau mendekati eksplosif, memang sesekali terjadi. Di tengah jalan di depan mereka, di antara mobil-mobil yang masih lewat, tiap kali selusin pengendara sepeda motor akan melarikan kendaraannya dengan kencang sekali, dalam sebuah perlombaan yang tak jelas aturannya bagi orang lain kecuali kecepatan sekitar 140 kilometer per jam. Selama beberapa jam itu berlangsung kompetisi urat saraf, persaingan untuk siap terjungkal, lomba menyepelekan mati.

Terkadang memang mati. Dan tampaknya tak apa-apa. Dalam lanskap lalu lintas kota besar Indonesia, tewas di jalanan hanya sebuah repetisi. Kecelakaan terjadi 420 kali sehari, menurut catatan 2010.

Jalanan adalah vivere pericoloso, hidup yang nyrem�pet-nyrempet bahaya, dan sepeda motor adalah sebuah pernyataan. Kendaraan roda dua itu bukan saja alat transportasi, tapi juga�seperti Porsche dan Jaguar bagi para miliarwan�sebuah ekspresi. Ada rasa bangga akan milik. Bagi orang lain, milik itu mungkin tak seberapa, tapi bagi mereka istimewa: ia barang yang baru terjangkau kelas sosial yang selama ini tak punya banyak.

Di dekat rumah saya ada sebuah lapangan yang berubah jadi pasar sebulan sekali. Di sana dijual alat-alat dapur, makanan kering, pakaian sehari-hari, barang-barang yang tak masuk etalase-etalase mall. Dan di sudut lapangan, di atas sebuah mobil pickup, dibariskan beberapa buah sepeda motor. Komoditas yang dulu biasa dipajang di showroom pertokoan itu kini ditawarkan seperti durian. Dengan prosedur kredit yang tak rumit, dengan atau tanpa SIM, seseorang bisa berubah jadi Sang Pemilik dan mengatakan: aku bersepeda motor, maka aku ada.

Dan ia akan mengarungi jalan dengan tenaga dan keterampilannya sendiri. Mandiri. Di atas rangka dan mesin yang ramping itu, ia akan dengan mudah menyelinap di antara mobil, bus, truk, angkot, bajaj yang jalan saling menghambat. Mereka sanggup sampai lebih cepat ke tujuan ketimbang jip Nissan Terrano yang merayap di antara kepadatan jalan�dan dengan itu mengubah sebuah asumsi asal: di Jakarta, mobil 3.000 cc bukanlah sarana mobilitas yang efektif, melainkan sarana kenikmatan di tengah kemacetan.

Dalam kapasitas itu sepeda motor juga instrumen kemerdekaan. Sang pemilik tak bergantung pada jemputan kantor atau kendaraan umum yang melelahkan. Ia bisa memakai kendaraannya yang mudah disimpan di pojok rumah kapan saja.

Tapi tiap pengendara motor akan menyadari kerapuhannya. Di perebutan ruang di jalanan, ia tak bisa sendirian menghadapi kendaraan-kendaraan yang lebih besar dan kuat. Tiap tabrakan akan mudah merontokkan. Maka hampir di tiap perempatan, mereka�berpuluh, mungkin beratus-ratus�membentuk formasi seketika yang pejal, tak bisa diterobos, membentengi diri seperti pasukan Romawi menghadapi musuhnya.

Dalam hal itu, mereka memegang supremasi. Di Jakarta dan sekitarnya, jumlah sepeda motor lebih dari 70 persen dari seluruh alat transportasi bermotor. Kurang-lebih 10 juta. Andaikata angka ini sama dengan angka pengendaranya, jumlah orang sekitar Jakarta yang melaju di atas motor roda dua itu hampir sama dengan jumlah seluruh penduduk Yunani.

Ada bayang-bayang kekuatan yang tak dapat ditundukkan dalam fakta itu�dan itu pula yang terasa jika kita melihat puluhan pemuda yang duduk di sadel sepeda motor mereka di larut malam Jakarta itu. Mereka adalah penantang. Kota besar ini mencerai-beraikan mereka di tempat kerja dan di jalan-jalan sibuk siang hari; malamnya, mereka menebus apa yang hilang: sebuah komunitas di mana mereka saling memberi pengakuan. Dengan itulah mereka menunjukkan ciri Jakarta selama 30 tahun lebih: sebuah kota yang tak mengakui dan tak diakui.

Maka yang kita saksikan di malam-malam itu bukan hanya sosok the lonely crowd, tapi juga sebuah zona perkecualian: di atas jalan sebagai bagian dari tata ruang kota, para pengebut sepeda motor yang tanpa marka dan tanda itu merasa ada di luarnya.

Atau lebih tepat: bagi mereka, yang mana di luar dan yang mana di dalam tata itu tak jelas lagi. Di dalam hukum sama halnya dengan di luar hukum, karena hukum telah ditetapkan tanpa mengakui mereka. Para administrator kota akan mengatakan bahwa aturan-aturan dirumuskan untuk umum, tapi siapakah �umum", kecuali sesuatu yang berubah dari masa ke masa? Dulu �umum" di Jakarta adalah pejalan kaki, pengendara delman, opelet, dan trem. Kemudian �umum" diwakili oleh para pengguna dan pemilik mobil pribadi. Yang tak termasuk dalam �umum" ini sadar atau tak sadar melihat dirinya di luar.

Dengan jumlah mereka yang begitu besar, mereka adalah indikator bahwa �luar" adalah sebuah pengertian yang labil. Jakarta bukan Roma dalam mitologinya, kota yang ditegaskan batasnya dengan pembunuhan. Mobilitas yang dipermudah oleh sepeda motor justru memperlihatkan batas itu tak ada, dan pembunuhan dengan mudah terjadi. Jika batas itu diterjemahkan sebagai hukum, bagi banyak orang di kota ini hukum bukanlah perlindungan. Hukum adalah ancaman.

Sebab itu, Jakarta�dengan aparatus yang beribu-ribu, di antaranya bersenjata dan punya alat pantau yang canggih�tak bisa dibayangkan sebagai sebuah �kamp" ala Agamben. Yang terlihat adalah sebuah dissensus, bukan konsensus, sebuah pergulatan tanpa marka, sebuah perlombaan sampai mati di tengah jalan di malam hari.

Goenawan Mohamad

--

Ning stasiun poncol

From: widiarto

Para supir taksi,ojek,calo,tukang becak,asongan,tukang parkir,penjemput tumplek blek nonton bareng sinambi totohan mbuh pironan...:d

Sunday, September 2, 2012

Sebuah Renungan


Maaf, bila repost, semoga bermanfaat.
Buat renungan...Konon di Jepang pernah
ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan, mereka yang
dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga tidak
memberatkan kehidupan anak2nya.
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya
kehutan, karena si ibu telah lumpuh dan mulai pikun. Si pemuda tampak
bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya tsb. Si ibu yang
kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang
bisa diraihnya dan mematahkanny kemudian menaburkanny disepanjang
jalan yang mereka lalui.
Sesampai didalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan ibu
tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia juga tdk menyangka sanggup melakukan perbuatan ini.
Justru si ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata "Anakku,
aku sangat menyayangimu. Dari kau kecil sampai dewasa aku selalu
merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku
tidak berkurang sedikitpun. Tadi aku sudah menandai sepanjang jalan
yang kita lewati dengan ranting2 kayu. Aku takut kau tersesat,
ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah."
Setelah mendengar kata2 tersebut, si anak menangis dengan sangat
keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya
untuk membawa si ibu pulang kerumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat ibu yang sangat mengasihinya sampai si ibu meninggal.
Pesan moral: orang tua bukan barang rongsokkan yang bisa dibuang atau
diabaikan setelah terlihat tdk berdaya. Menitipkan mereka di panti jompo, dan hanya mengunjungi jika sempat tidak jauh lebih mulia dibanding membuang mereka dihutan dan membiarkan mereka meninggal dalam kesendirian, merindukan perhatian dan kasihsayang. Kita hrs berbakti sampai hayat hidupnya dan dg penuh kasihsayang.
Bersyukur dan berbahagialah kita yg msh diberi kesempatan utk merawat dan menumpahkan kasihsayang pada orangtua kita.
Salatian & kasih sayang, kita hrs
berbakti sampai hayat hidupnya dan dgn penuh kasih sayang. Salam.

Masa Lucu-lucuan Sudah Berakhir ?

From : syauqi yahya

Koalisi Pendukung Pemerintah
Istana: Masa Lucu-lucuan Sudah Berakhir
Penulis: Hindra Liu | Editor: Nasru Alam Aziz
Rabu, 2 Maret 2011 | 15:37 WIB
Dibaca: 12145
Komentar: 37

1

TERKAIT:
PKS Beberkan "Behind the Scene" Koalisi
Inilah Masalah Koalisi versi PKS
Pidato SBY, Sinyal Reshuffle Makin Dekat
Koalisi di Indonesia Aneh
Golkar dan PKS Tak Merasa Melanggar

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan akan mengirimkan surat kepada pimpinan partai politik yang tergabung dalam Sekretariat Gabungan Parpol Pendukung Pemerintah pada satu atau dua hari ke depan. Melalui surat itu, Presiden akan meminta ketegasan pimpinan parpol apakah mereka tetap ingin berkoalisi atau memisahkan diri.

"Jawaban yang diharapkan sesederhana pertanyaannya, yaitu iya atau tidak. Dan sebaiknya, karena ini ditulis dalam bentuk surat, maka sangat penting bagi mereka untuk memikirkan jawabannya secara rasional. Karena yang diperkarakan tidak ada kaitannya dengan perasaan, tetapi dengan nasib pemerintahan yang basisnya koalisi ini," kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparinga kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (2/3/2011).

Daniel mengungkapkan motif terpenting Presiden ketika memutuskan mengirimkan surat kepada pimpinan parpol. "Ada kemendesakan yang segera untuk menghadirkan pemerintahan yang bekerja lebih efektif. Saat ini ada sisa waktu pemerintahan selama 3,5 tahun. Maka itu Pak SBY dan Pak Boediono tidak mau mengambil risiko bahwa sisa waktu ini hanya merupakan waktu yang sia-sia," tuturnya.

Daniel meminta agar publik tak memandang surat tersebut sebagai cermin sikap Presiden yang antikritik. Presiden, kata Daniel, percaya bahwa perbedaan itu penting. Tetapi manakala keputusan harus diambil, perbedaan itu hanya membawa kehancuran.

"Saya kira, pesan penting untuk koalisi adalah, berbeda itu satu hal ketika pertimbangan sedang digalang. Tetapi ketika sudah menjadi keputusan, maka sebaiknya orang harus menjadi satu. Selama 1,5 tahun terakhir ini, garis itu tidak terlalu jelas ditarik. Dengan pernyataan itu, ada garis yang dibuat. Are you with us or are you with done," kata Daniel.

Daniel menegaskan, "Kalau kita berada dalam koalisi pemerintahan, fungsinya adalah menyukseskan misi kabinet ini. Masa lucu-lucuan sudah berakhir. Orang sebaiknya meluruskan kembali pikiran dan hatinya untuk koalisi."

http://nasional.kompas.com/read/2011/03/02/15370010/Istana.Masa.Luculucuan.Sudah.Berakhir

--

Saturday, September 1, 2012

daripada mancing palung susah.. mancing wader aja yuk ??

Gara gara kecap

From: <syauqiyahya@gmail.com>

Rabu, 06/06/2012 18:56 WIB

Gara-gara Kecap, Faisal Basri Tegur Ahok

M Rizki Maulana - detikNews

Jakarta - Persaingan menuju kursi DKI 1 memanas, persaingan antar pasangan calon juga semakin terasa. Salah satunya adalah antara calon gubernur dari jalur independen Faisal Basri dan calon wakil gubernur Basuki T. Purnama (Ahok) yang diusung oleh PDIP dan Gerindra.

Dalam sebuah debat calon gubernur yang diadakan di Universitas Al Azhar Jakarta kedua orang tersebut sempat bersitegang. Penyebabnya adalah karena Faisal tidak terima dirinya dikatakan hanya jualan kecap alias menjual janji kepada masyarakat oleh Ahok.

"Kalau kita (6 calon gubernur) ini jagonya hanya jualan kecap ke kalian mahasiswa," ujar Ahok dalam debat tersebut Rabu (6/6/2012).

Kontan hal ini langsung ditanggapi dengan keras oleh Faisal Basri, karena menurutnya dirinya tidak pernah menjual janji. Dia menilai yang menjual janji adalah calon-calon yang diusung oleh partai politik.

"Jangan bilang semuanya yang jualan kecap! Saya tidak senang," protes Faisal.

Menanggapi protes ini, Ahok terlihat berusaha untuk menenangkan situasi dengan menarik kalimatnya. "Oke saya meminta maaf, jualan kecap tidak semua cagub," ujarnya.

Usai diskusi Ahok menyebut insiden kecil itu sebagai kesalahpahaman. Faisal dinilainya sudah terlalu muak dengan kiprah para politisi dari parpol.

"Beliau wajar saja begitu, beliau lagi emosi, tidak suka dengan parpol. Tapi kan kalo tidak suka hanya ada dua solusinya, satu masuk parpol memperbaiki atau kita revolusi. Parpol itu kan kesepakatan konstitusi negara kita. Nah itu yang saya tawarkan kepada mahasiswa," ucapnya.

Sementara itu Faisal mengaku emosi karena Ahok selalu menyinggung masalah penjualan kecap di beberapa kesempatan. Faisal berjanji akan menegur Ahok lagi jika partner Jokowi itu masih terus menggunakan istilah kecap.

"Kalau dia ngomong lagi seperti itu saya akan peringatkan lagi," tutupnya.

--

Bakal Kacau: Jeruk Makn Jeruk ?


From: <syauqiyahya@gmail.com>

Jum'at, 24 Agustus 2012 | 05:52 WIB



Pakar: Penyidikan Kasus Simulator SIM Bakal Kacau



EMPO.CO , Jakarta: Pakar hukum pidana dan juga pengajar di Universitas Trisakti, Andi Hamzah, memprediksi proses penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan alat simulator SIM bakal kacau. Pasalnya, ada dua lembaga penegak hukum yang menyidik kasus ini sama-sama memiliki 'kunci' yang menghambat proses penyidikan masing-masing lembaga.

"KPK punya barang bukti (untuk penyidikan di Bareskrim Polri), sementara Polri punya saksi kunci untuk KPK, yakni Sukotjo Bambang," kata Andi saat dihubungi Tempo.

KPK, kata dia, tak akan mungkin memberikan barang bukti yang telah mereka sita kepada penyidik Polri sebelum penyidikan terhadap tersangka KPK, Djoko Susilo, selesai. Padahal, polisi sangat memerlukan barang bukti itu untuk menyidik lima tersangka yang mereka tahan.

Sementara itu, penyidikan KPK terhadap tersangka Djoko akan terhambat jika saksi kuncinya, Sukotjo Bambang, tak bisa diperiksa KPK. Polisi pun sudah pasti tak memperbolehkan KPK 'meminjam' Sukotjo untuk diperiksa.

Kemudian, untuk mekanisme peminjaman barang bukti dari KPK ke Polri, menurut dia, tak perlu pakai surat perintah dari pengadilan. "Ya tinggal pinjam saja, tapi ya tetap KPK tak akan berikan," kata dia.

Untuk menyelesaikan perkara ini, lanjut Andi, jalan satu-satunya adalah Polisi harus legawa menyerahkan kasus simulator SIM ini kepada KPK. Sebab, secara hukum KPK lebih memiliki wewenang untuk menyidik kasus ini.

INDRA WIJAYA
-----Original Message-----
From: syauqiyahya@gmail.com
Date: Fri, 24 Aug 2012 05:42:38
To: forumalumni<forumalumni@googlegroups.com>
Reply-To: syauqiyahya@gmail.com
Subject: Jeruk Makn Jeruk ?

Jumat, 24/08/2012 11:52 WIB

Polri Ingin Tahu Irjen Djoko Susilo Terima Suap atau Tidak

Danu Mahardika - detikNews

Jakarta - Bareskrim Polri memeriksa Irjen Djoko Susilo sebagai saksi kasus pengadaan simulator untuk ujian SIM. Polri ingin mengorek keterangan dari mantan Kakorlantas itu, apakah Djoko benar terima uang suap atau tidak.?

14 Komentar 

Kirim Komentar

waninyocot 

less than a minute ago

srimulatan, lakone pak kumiss.....

Beri Tanggapan

Sandra Momo 

less than a minute ago

Percuma kita coment disini ga akan didengar sm sby,bikin sakit hati malah jadi penyakit mudah2 ada mukzizat dan petunjuk dr Allah SWT untuk menghancurkan kezholiman di Indonesia,dan menggerakan hati para mahasiswa borju maaf mungkin para mahasiswa skr yg bisa kuliah hanya anak2 orang mampu atw anak2 koruptor makanya mereka apatis,ini semua karena mahalnya biaya pendidikan berbeda dgn jaman kami dulu yg masih punya integritas

Beri Tanggapan

NongJe 

7 minutes ago

Apa ada yang percaya dengan penyidikan polri??? kalo mereka bersih pasti ya, masalahnya apa mereke bersih??? apa ada polisi yang mau perbaiki citra nya???

Beri Tanggapan

Ulat_Bulu 

7 minutes ago

Pasti ngaku, iya saya korupsi...

Beri Tanggapan

iwan_irawan 

10 minutes ago

pasti ujung2nya TIDAK TERBUKTI, udah habis dibagi2 sich

Beri Tanggapan

iwan_irawan 

11 minutes ago

pasti ujung2nya TIDAK TERBUKTI

Beri Tanggapan

otnarjah 

12 minutes ago

POLRI rupanya lupa pada adegiumnya sendiri \'KALAU SEMUA MALING MENGAKU, MAKA PENUHLAH PENJARA INI\' . . . . (skrg aja sdh penuh sesak)

Beri Tanggapan

pemirsasetiadetik 

13 minutes ago

Yg punya duit banyak silahkan masuk Polisi RI ya... Yg pinter2, jujur, n rajin tapi gak punya duit silahkan ke sektor swasta aja...

Beri Tanggapan

pemirsasetiadetik 

13 minutes ago

Ya ingin tahu. Soalnya ga bagi2 ya! Hehehe

--