Nota Karya :
Buah Kreativitas Penyair Perempuan Tanjung Pinang
Silvie Ditha Audina
Oleh :
A.Kohar Ibrahim
*
Senandung Rindu
Sajak Silvie Ditha Audina
Akulah rindu
Yang menapih sunyi
Bukan kujerit
Selintas semak
Kuramu pekik
Dalam syair
Mendesir
Bulir
Akulah angin
Menyauh sendu
Gemercik
Pada sayap sayap basah
Mendung kubusung
Tanggung lah
Angin sudah lusuh
Tanjungpinang,23 Mei 2012
*
INDAH! hingga ku niat mencatat - nota dinota. terima kasih sepiring penuh, dina. salam takzim. (aki). Begitulah komen ringkas di Facebook 29 Mei 2012. Secara spontan menyambut sajian kreasi puisi Silvie Ditha Audina.
Iya. Iya iyalah. Setiap buah kreativitas seni, termasuk puisi, aku apresiasi dengan ekspresi kata kwalitatif: I n d a h lantaran benar, pas, menggugah perasaan pikiran imajinasi. Selayaknya santapan spiritual yang memang dibutuhkan dalam mengayomi hidup kehidupan. Daku saji ulang di ruang lanjutan Nota Karya Buah Kreativitas penulis penyair kali ini. Justeru berkenaan dengan Sang Penyair Perempuan kelahiran Kota Pantun Tanjungpinang Kepulauan Riau sembilanbelas tahun lalu : Silvie Ditha Audina itulah. Supaya pembaca yang belum tahu jadi tahu. Itulah pertanda nyata buah kreativitas sang penyair berbakat yang menerima pendidikan di salah sebuah sekolah tinggi prestisius UMRAH – Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Tapi Kenapa Silvie ? Kenapa perhatian pada para penulis penyair muda ataupun pendatang baru ? Swara sang tanya penasaran. Ya – kenapa tak ? Pasalnya karena aku suka. Karena aku mengapresiasi buah aktivitas-kreativitas bernas. Dari siapa dari mana dan kapan kapan pun ada tersedianya. Tak peduli yang lokal, yang nasional sampai yang internasional. Tak peduli yang belum maupun yang sudah terkenal.
Iya iyalah. Karya tulisku membuktikan secara kongkrit, bahwa aku bisa mengapresiasi penyair Erlin Erlina Soraya, Gusmarni Zulkifli, sampai Ramayani Riance, Rama Prabu dan Rendra dan seterusnya lagi. Bisa mengapresiasi penyair Tahar Ben Jelloun, Baudelaire, Akhmatova sampai Mao Zedong! Dan banyak lainnya lagi. Yang terpenting, aku nikmati, aku apresiasi hasil buah kreativitasnya.
Iya iyalah. Karena takar ukur utama seseorang itu adalah perbuatannya, hasil kerja atau karyanya. Selain ada unsur atau segi-segi lainnya yang cukup menggelitik. Seperti kecintaan pada Bahasa dan Sastra. Pada kata-kata. Begitu juga perhatian pada lingkungan alam masyarakat sekitar.
Kecintaan pada bahasa dan sastra serta kata-kata, kiranya dari seberapa buah kreativitas yang tersajikan, pembaca bisa mengapresiasi sendiri betapa apa dan siapa Silvie Ditha Audina.
Akan halnya yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, khususnya yang berkenaan dengan kaum perempuan dengan salah satu sosok kepeloporan perjuangan emansipasinya yang masyhur: R.A.Kartini, secara ringkas tapi lugas Silvie menyatakan ekspresinya sendiri. Dalam suatu cakap-cakap ringkas dengan penyusun naskah ini.
*
Pandangan Silvie Ditha Audina (Dina)
atas ungkapan Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang" ?
"Habis Gelap Terbitlah Terang". Iya saya sering mendengar ungkapan tersebut. Ungkapan yang membenarkan bahwa bukankah kita sebagai manusia (anak bangsa) memberikan secerah harapan untuk dikemudian hari. Khusunya emansipasi wanita memiliki kegigihan yang tinggi. Penuh solidaritas yang kuat, aktif, kreatif. Sebagai pemimpin yang memiliki martabat dan jiwa yang benar-benar tangguh. Karena pada masa Kartini saat itu Indonesia memperbudak kaum perempuan."Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan Obat Kulup Penawar Rindu". Namun cahaya itu belum menyinarinya secara terang , karena terhalang oleh tradisi tersendiri. Hanya melahirkan gagasan dan pandangan-pandangan luar biasa tentang peran wanita, kemanusiaan, agama, serta pikiran kemajuan lainnya untuk mewujudkan kaum perempuan yang terdidik. Bahkan sampai hari ini aku masih mengagumi R.A Kartini. "Tak ada tunas yang mampu tumbuh seraya melahirkan jati diri bagi perempuan Indonesia. Bahwa tak ada malam jika tak ada siang,ada gelap pasti ada terang. »
-- Menurut Dina, selain Kartini, tokoh tokoh wanita mana lagi yang layak jadi teladan? Tokoh atau tokoh tokoh wanita di Kepri? Di Riau?
« Dewi Sartika. Itu tokoh wanita emansipasi selain R.A Kartini. Lugas, tegas, cerdas. Iya jelas, beliau memberikan apresiasi yang diberikan kepada kaum perempuan Indonesia. Bukan itu saja, ia juga mendirikan Sekolah Kautaman Istri pada tahun 1910. Ia mendirikan sekolah tersebut dengan tingkat rasa kepedulian terhadap kaum perempuan lainnya. Memberikan inovati pada masa perbudakan. Bahwa ia tak ingin perempuan terlalu tertindas pada masa itu."
-- Apa dan bagaimana kesan Dina akan kisah cintakasih dengan Pulau Penyengat yang legendaris itu?
"Aku terperangah jelas. Salah satu objek wisata yang kusukai. Pulau penyengat yang indah nun jauh diseberang sana. Salah satu tempat Wisata sebagai pemberdayaan masyarakat akan kecintaan kita terhadap tempat - tempat bersejarah. Wisata bersejarah yang memiliki arti besar bagi masyarakat. Terlahir dari adanya Gurindam 12 yang karangan Raja Ali Haji. Tersusun tiap bait terbesit petuah dan nasehat. Ini bahkan bukan hanya kesungguhan yang biasa saja, tetapi sejarah Melayu yang tak hilang kandas begitu saja. Pulau penyengat yang legendaris. Pulaunya sungguh kecil, tetapi menyimpan Sejarah yang sangat besar dan Citra Kebudayaannya sungguh dapat dikagumi."
*
SEBAGAI seorang penyair (muda usia), menurut hematku Silvie Ditha Audina adalah salah seorang yang berbakat. Berbakat dalam alam perpusian – teriring doa sekaligus asa semoga saja juga alam kesusastraan Indonesia.
Aku nyatakan berbakat, karena sedikit banyak mengetahui wataknya, itikadnya, baik tercermin dari ujarkatanya dalam percakapan maupun dan terutama sekali dari buah kreativitasnya. Seperti dalam sajaknya berjudul "Aku" dan serangkum sajak-sajak lainnya ini.
Perhatianku, sebenarnya, kerap kali aku utarakan dalam komentar atau apresiasi ringkas-ringkas atas sajian puisinya yang aku terima. Maka untuk lebih lugas dan sekaligus juga tambahan tanda nyata – beberapa diantaranya kusajikan berikut ini.
*
A K U - Silvie Ditha Audina - Nota A.Kohar Ibrahim
A.Kohar Ibrahim :
Nota Karya Ringkas
Atas Sajak
A K U
Silvie Ditha Audina
*
AKU
Lelah sudah
Di selasela celah
Membungkus sukma
Pada puing
Meronggak sayup
Hirup tekik nak mencekik
Akulah resah
Setelah lelah
Menelan ludah
Kau
Aku
Pada tuhan
Jadi saksi
Mari kujamah
Aku tak ingin
Meneguk
Biar aku
Jangan engkau
Kamarhitam,2012
*
A.Kohar Ibrahim :
SAJAK "Aku" Silvie Ditha Audina. Membaca Dina, dengan sang "Aku"nya, aneh juga, aku justeru tidak lantas teringat sajak penyair Chairil Anwar dengan judul serupa. "Aku/ kalau sampai waktuku". Tetapi kepada penyair besar Perancis Guillaume Apollinaire (1880-1918). Bukan terutama pada tata bina kata-kata ala gaya calligramme, tapi pada suasana sajaknya berjudul "Liens" (Hubungan).
Sudah mulai baris kata puitis pertamanya mampu menguggah gugat pembacanya, tentang: "Cordes faite de cris" - tali tambang ikatan terbuat jeritan. Dengan pelukisannya yang dahsyat akan suasana benua Eropa dengan hubung perhubungan tali ikat pengikatannya pembawa kecerah pencerahan pun yang kebalikannya. Tentang semua pasangan yang bercinta yang semestinya dalam kesatupaduan.
Namun keadaan sang pasangan kekasih dalam keadaan yang terjebak oleh suasana kebalikannya. Teriaknya -- "J'écris seulement pour vous exalter / O sens ô sens chéris":
« Aku menulis sematamata untuk menggugahmu
duhai rasa dirasa terkasih
Musuh kenangan
Musuh keinginan
Musuh penyesalan
Musuh airmata
Musuh segala yang masih aku cintai".
(Guillaum Apollinaire: Liens. In "Calligrammes" ed. NRF – Gallimard 1966 Prais Perancis)
SUNGGUH dahsyat! Jika diingat. Tapi Tuan dan Puan, itu lukisan suasana dalam Abad Ke-19! Tapi kita menjalani hidup kehidupan di Abad Ke-21!
Iya iyah! Kedahsyatannya di situ itu. Dalam abad kita ini pun suasana kehidupan jiwa manusia masih bisa terjadi -- yang hakikinya serupa. Dan dampaknya serupa. Suatu tali ikat jeratan yang mencekik leher, membelenggu kaki dan tangan. Hingga kikuk sulit bergerak bebas merdeka lantaran belenggu terbelenggu oleh "hubungan tali ikatan" itu! Yang rasa dirasa terasa kadang amat menjerat terjerat hingga tak bisa tidak mesti memekik. Mesti teriak. Pekik teriakan jiwa.
Iya iyah: seperti yang dipekik-teriakkan oleh penyair puan muda Melayu : Silvie Dhita Aguna. Dengan kreasi puisinya yang berjudul "Aku" itu.
Silakan apresiasilah: simak lacak selami dan coba tanya -- kenapa bagaimana lahir sajak seperti itu? dengan gaya penampilan meskipun masih dalam proses pencarian. Dengan tata bina kata kata yang apik puitik. Dengan simbol dan atau metaforanya yang mengejutkan bahkan mendebarkan.
Kepada sang penyair, aku ucapkan banyak terima kasih. Berkat gubah gugahan buah kreativitasmu aku terundang oleh penyair Guilleum Apollinaire. Baik dikau maupun sang penyair besar Perancis itu sama-sama telah menyajikan santapan rohaniah bernas bagiku. Wass. (AKI)
(FB 23.05.2012)
*
A.Kohar Ibrahim :
Nota Baris Kata Puitis Bernas
*
Silvie Ditha Audina :
Sajaksajak bersajak ..
membekas pada sajak..
Ketika Sajak bermain pada Kumpulan Sajak ..
Berirama sekilas riang ..
*
A.Kohar Ibrahim :
SESEORANG pembaca Silvie Ditha Audina telah mempertanyakan dengan iringin sepleton tandatanya, ah, entah kenapa, tapi ekspresinya menunjukan kebingungan : «artinye apa tu? » Sedangkan daku berupaya untuk menikmati sajian Dina dengan mata -- pandang mata hati mata pikiran – ala kadarnya nalar. Dengan bermisal-andai – tidakkah akan lebih baik jika baris kata terujung dilengkapi kata: ….menggema? Begini jadinya:
Silvie Ditha Audina:
Sajak Sajak Bersajak
Sajak sajak bersajak
membekas pada sajak
Ketika sajak bermain pada Kumpulan Sajak
Berirama sekilas riang menggema
*
Menurut hematku, sajian Dina itu merupakan sesuatu yang layak simak layak kaji ala kadarnya. Sebagai buah kreativitas bernas dalam menghargai bahasa khususnya kata kata yang ditata apik. Bergaya realisma fantastik puitik. Membacanya dengan kacamata bahasa sastra, bukan bahasa reportase jurnalistik, ah, apa pula bahasa pasaran.
Untuk apresiasi seni apapun, memang diperlukan sebekal pengetahuan tertentu, selain memiliki daya pandangan estetika. Silvie telah menampilkan Sajak bukan hanya sebagai subjek-objek, tapi tokoh aktor simbolistik yang hidup. Acung jempol & Salam takzim. Sebagai pencinta kata pencinta Bahasa Indonesia, Silvie bukan saja mengedepankan kata kata di barisan, melainkan juga menjadikannya yang aktip berperan. Luarbiasa! (AKI)
Facebook 04.05.2012.
*
Nota Ringkas
Oleh : A.Kohar Ibrahim
Atas sajak : Berkelam Diam
Silvie Dhita Audina :
Berkelam Diam
Mukaku murka
henti nafas
Ketika sengau
menancap risau
Pada pelantar
menguning ranum
manakala tersapu ombak
menghempas deram
Selaksa jiwa
ketika sayup mengusik
ini punyaku
kau tak dapat
lagi berkata
mengencam memasung
ketika pahit
meriuh kelam
pada malam
aku bersemayam
bukan pada aku jua
namun hati
tak ada yang tahu
Tp2012
*
A.Kohar Ibrahim:
Dinamika Cita Rasa Dirasa
Diam Menggelombang
Diam Menghanyutkan
Diam Api Dalam Sekam
Diam Teriak Budak Berontak
Tuntut Kebebas Merdekaan
*
SUNNGUH. Sungguh -- sekali lagi Silvie Dhita Audina -- sang puteri Tanjungpinang Kota Pantun ini menunjukkan kebisaannya membina tata kata kata dari bahasa yang dicintainya: Bahasa Indonesia. Aku suka: meski hanya tahu Dina sorang pencinta Bahasa dan barang tentu cinta Sastra Indonesia.
Apakah tempatannya mempengaruhi jiwanya sebagai penulis penyair muda? Tempatan bersejarah Dunia Melayu: Kepulauan Riau. Tempat kelahiran pakar pembina bahasa Raja Ali Haji -- sang Pahlawan Nasional Bangsa Indonesia Raya. Itu segitu sekdar setitik kecik latar belakang dari apresiasiku atas kreativitas Silvie Ditha Audina.
Iya iyah. Terus teang aku suka orang orang pencinta cita cita dan penghormat warsian bernas bangsa. Kebalikannya dengan yang sebaliknyalah! Dan bahwasanya buah karya kreativitas itulah tanda bukti nyata akan kecintaan sekalian penghormatan terhadap bahasa itu. Bahkan sekaligus merupakan pengembangannya. Dalam kebisaan dan keplastisan mempertegas kehidupannya. Seperti tertera pada sajak Silvie Ditha Audina "Berkelam Diam".
Ah oh iyah. Dari judulnya saja! Oh! Ah! Iyah. Dari menyimak judulnya saja, sudah amat memikat sekaligus mengugah gugat; ada tanda kedialktisan suasana jiwa! Hanya dengan dua patah kata! Judul itu pun sudah mempertanda isi dari tema atau pokok pengungkapan yang diluksikannya.
Yang: "Dikelam Diam"!
Ada apa? Kenapa? Bagaimana bisa?
Sungguh menggelitik, cantik puitik dinamik pelukisan gejolak jiwa sang Puteri Kepri ini! Dengan baris baris kata yang meski dua dua kata piawai dia mengungkapkan nuraninya. Menunjukkan wataknya yang memberontak pada apa yang dirasa dipikir sebagai usik mengusik hak azasinya. Hak azasi sebagai sosok manusia wanita muda belia yang utuh seutuhnya. Rajin berani dan tahu menjaga hargadiri (marwah).
"Kau tak dapat / lagi berkata / mengecam memasung / ketika pahit/".
Duhai! tidakkah ini murni swara nurani bermakna teriak gugat sekaligus tuntutan yang membela kebenaran hak azasinya? Sungguh suatu canang yang mengundang renungan: terhadap kekuasaan atau sang penguasa apa, macam mana, teriak itu tertuju?
Tetapi itu teriakan universal! Dari setiap insan manusiawi yang mengidamkan kemerdekaan.
Dan teriakan itu sepertinya tertunda untuk menggema tergema. Sepertinya. Iya iyah. Tapi hakikinya tak! Teriakan itu adalah canang juang menuntut kebenaran dan keadilan. Adalah Nyanyian Kemerdekaan dalam juang yang mungkin memungkinkan adanya. Juang perjuangan mematahkan belenggu penjajahan ala feodalisme maupun kolonialisme dalam Abad XXI ini! Dalam sekala individual, lokal, pun nasional bahkan internaional.
Kepada Silvie Ditha Audina, kuucap banyak terimakasih telah memberi kesempatan membacamu. Semoga dikau teguh dan bijaksana serta terus jaga semangat dan marwah serta kreatip. Wass. (AKI)
Catatan:
Sumber : Facebook Silvie Ditha Audina 6.05.2012
*
LIMA SAJAK
Silvie Ditha Audina :
Habis Gelap Terbitlah Terang
Purnama
Dalam Merah Abu
Sakan
Negeri Topeng
KELIMA buah kreativitas berupa sajak-sajak Silvie Ditha Audina berikut ini disajikan semata-mata pertanda nyata betapalah bukti ketajaman pena penyair perempuan muda yang berbakat ini. Sajak-sajaknya matang, bernas, indah dalam keutuhan kesatupaduan bentuk-isinya, pilihan kata-kata yang tertata-bina berirama, judul sekalian tema pengungkapan dan pelukisannya masing-masing. Dengan disagang-topang simbolisasian dan atau metafora yang cakap cakep – secara pas memateri imajinasi. Sehingga pembaca tergugah oleh nyanyian jiwa yang dikumandangkan dengan cemerlang.
Simaklah dengan seksama. Kiranya, kalau kesempatan, daku bisa menyusun mata kuliah berjam-jam dengan kelima sajak-sajak Silvie Ditha Audina ini. (AKI)
*
Silvia Dina :
Habis Gelap Terbitlah Terang
Di ujung sana kau diam termangu
duduk diantara dua jejaka
Tertunduk riuh mendatar parasmu
Biarlah akan kubungkus
deru yang meredam peluh dihatimu
Usah lagi kau bergemuruh
mendekap kelu kesah dimulutmu itu
Katakanlah bahwa kau menuntun
dari mereka-mereka yang tak berilmu
Kau sungguh indah walau terasa polos
Meringkuh kalap diujung bibir
Jangan kau fikir jejaka itu
Disaat kau mulai menyadari
Pandangmu bukan kusam
Jernih kemilau dibalik mata
Kau ingat hidupmu
Membening terang disela waktu
Tersimpan riang yang kau punya
Kau hidupkan para wanita
Bukan tertindas
justru cerah pada jiwajiwa mereka
Habis gelap terbitlah terang
Jangan menyimpan lara
Hiduplah selamanya
pada angan dan citacitamu
Tanjungpinang,21 April 2012 ketika cemas
*
Purnama
Malam telah menenggelamkan bintang
Bersama angin yang berhembus kecil
Langit pun kini telah dicumbu mendung
Saat aku menatap purnama
Mengangkat kisah merakit cerita
Yang terdiam termenung menengadah langit
Mencurahkan rasa yang tiada berujung
Memberi kisah indah yang kulewati
Riang bersamamu kasih
Terseret arus dalam dinginnya malam ini
Yang menyimpan hening dibalik malam
Lidah seakan mati
Menutup mata saat purnama hadir
Berbinar indah terkatup sayu
Terhimpit rasa yang gemuruh mengundang riang
Cahayanya bagai cahaya namamu
Tak pernah hilang
Terus menerangi malamku
Hingga aku terjaga terlepas dalam mimpi panjangku
Tanjungpinang,8 Februari pukul 00:15
*
Dalam Merah Abu
Diambang dalam cabik cabik rasa
Ketika titik penghujan melampaui
batas asa
Terhempas jatuh menindas rasa dalam dada
terus hati lalu jiwa
Aku merasa bahwa aku bukan
Sosok sempurna
Tak lebih tapi kurang
Mencoba mengendusendus
Mencari cari di ujung mata saat terpejam
Kusanjungi dalam seribu igauan
Hitam merah abu
Mencoba kau tahu saat aku haus
Membara lara terus menebar benih cinta
Mengitari asap putih jauh di ujung
Rasarasa yang kecil molek
Yang kau punya itu
Dibaring peraduan terhampar bayang
Mencuri curi kau
Tapi ku takut kau enggan bersamaku
Memalingkan wajah seakan lari terbirit
Torehkan pundakmu pun kau henyak
Mimpi apa aku tadi malam
Saat terbalik balik meronggah
Heningnya dada sampai di
Ujung jantung sulit aku tempuh
Kau tahu titik hujan mulai turun
Andaikan kau laut
Andaikan kau hujan
Kusimpan kau dalam sebilik hati
Tanjungpinang,5 Maret 201 01:14 tengah malam
*
Sakau
Dalam air payau
Ketika otak sedang meracau
Menampung hati yang
kian galau
Diatas jala
dalam lamunan menyala
Aku tersudut pilu
Dalam pengakuan yang haru
Meniti bait tiap bait
enggan bersenggama bersama hati
Kelu kesah yang
termakan api
Berkobar menapih kesal
Di ujung galau
aku sakau dihati kecil
Tanjungpinang,28 Januari 2012
*
Negeri Topeng
Tanah air yang menjulang
Berjengah lengah bagai tulang
Membentang samudera
Tanah air bumi pertiwi
Meluas hijau disapu ombak putih
Menerjang nerjang membongkah pondasi
Dulu indonesia dikenal dengan sebutan
Gemah ripah loh jinawi
Yang kental akan adat ketimuran
Bergelantungan memanjang kelu
Di sepanjang jajaran sawah
Mengucur keringat mengais beras
Dalam teriknya yang menyengat
Hidup berpuluh puluh tahun
Disana !
Ada manusia hidup
Paruh setengah baya
Berjalan tukas menapaki trotoar
Banyak daki terkepul lusuh
Wajah yang kumal
Bau busuk dimana mana karna tak mandi
Tengadah ulurkan tangan
Hanya bisa meminta hasil
Seribu perak pun kau enggan
Apalagi berkeping uang merah
Mungkin bisa depresi
Disana !
Ada manusia hidup
Tak tentu mengarah berputar
Melingkari bundaran
Duduk menoleh beribu manusia yang bersandar
Di perempatan jalan
Menyandang koran yang kusut kisut
Dengan bermacam wajah tak seri
Memaksa selaksa kehausan
Dalam sebungkus nasi hari ini
Pun belum mendiami perutnya
Berkicau bersahutan cacing cacing kecil
Pilu tak gentar
Tak perduli pada orang
Disana !
Pada kota kota besar
Berkerumun anak anak kumuh
Sungguh lusuh wajah hitam meredam
Terderam matahari
Kuku kuku hitam berdekil ingin
Muntah yang melihatnya
Hidup seorang diri
Mencari rongsokan gelas plastik
Mengais kaleng mencari sisa nasi
Di padang sampah
Telapak kaki hitam berderu bersama jalan
Aspal
Menyeret gerobak simpang siur
Berjalan tiada henti
Keringat yang bulat bulat
Berlinangan deras melewati pipi
Letih pun tak kau hiraukan
Selayaknya bisa mendapatkan
Pendidikan
Orang orang besar tak lagi perduli
Dengan siapa mereka hidup
Menuntun jalan bersama mobil mewah
Tegap berjalan dalam balutan
Jas jas hitam megah nan gagah
Sepatu kilap tersilau
Wangi pun sungguh bukan main
Harummu semerbak terkesibak
Tak pernah kah kau fikirkan
Orang orang kecil di sekitarmu
Padahal kau tenar tenang duduk
Di dalam ruangan ber ac
Kursi yang empuk
Bukan sembarang orang justru
Dari rakyat kecil kau terpilih
Pejabat pejabat tinggi
Hingar bingar menggeluti setumpukan
Uang negri
Perut buncit bagaikan king kong bandit
Tak ingatkah kau yang memakan habis tak bersisa
Menindas tersedak tak mengingat tanggung jawab
Jika aku orang kaya
Kulepas habis kering pada manusia kecil
Agar dapat hidup selayaknya
Mungkin tuhan murka
Karna sang pejabat tak lagi menjadi
Orang yang bijak
Tanjungpinang,7 Maret 2012 saat kacau
*
Biodata :
A.Kohar Ibrahim
Nama lengkap : Abdul Kohar Ibrahim
Nama pelukis (tandatangan karya lukis) : Abe
Lahir 1942 di Jakarta, Indonesia.
*
Menerima Pendidikan SR--SMA di Jakarta, berkelanjutan di Akademi Bahasa dan Sastra Indonesia MULTATULI (Jakarta).
Mulai menulis di ruang remaja Indonesia Muda koran Bintang Timur. Sebagai cerpenis sejak cerpen pertama berjudul « Ayah » dimuat Bintang Minggu (Bintang Timur edisi Minggu) tahun 1959. Jadi kulitinta dan pekerja dapur di Harian Rakyat dan Harian Rakyat Minggu juga Majalah Sastra dan Seni Zaman Baru pimpinan Rivai Apin dan S.Anantaguna.
Pada tanggal 27 September 1965 terpilih sebagai anggota Delegasi Pengarang Indonesia – bersama Aziz Akbar, Z. Afif, Sukaris, Kusni Sulang untuk menghadiri perayaan Ultah Ke-XVI berdirinya RRT di Beijing serta peninjauan seni-budaya.
Musim panas tahun 1972 meninggalkan RRT atas kemauan sendiri, bersama beberapa kawan, membelah benua dengan keretapi Trans-Siberia via Moskow dan Berlin hingga sampai di ujung Eropa Barat.
Di Brussel Belgia, kesempatan melanutkan pendidikan Seni Rupa di : Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles, Brussel, Belgia.
Alamat:
Belgia : Bruxelles, Belgique.
Indonesia : Batam ; Jakarta, Ciputat Tangerang Selatan, Indonesia.
.
Penghargaan / Diploma:
(1) Brevet d'Exellence & Diplôme de Fin d'Etude de l'Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles (1975, 1979).
(2) Prix de Gouden Pluim (Spectraal, Gent, 1981).
(3) Médaille d'Argent du Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1987).
(4) Médaille d'Argent de l'Académie Internationale des Arts Contemporains et Diplôme d'Officier (pour reconnaître et protéger sa valeur artistique) 1986.
(5) Médaille d'Or (1987) et Médaille de Platine de l'AIAC (Enghien, 1988).
Biodata. Bibliographie :
(1) Media Massa, antara lain : Le Soir, La Lanterne, La Dernière Heure, L e Pourquoi Pas ? Le Jalon des Arts, Gazet Van Antwerpen, Het Laste Nieuws, De Autotoerist, Sontags Kurier, Cellerche Zeitung. Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, KB Antara dan media online: SwaraTV, DepokMetroNet, CybersastraNet, CimbuakNet. Sedangkan buku-buku dan kamus yang memuat biodata, antara lain :
(2) Spectraal Kunstkijkboek VI, éd. Spectraal, Gent 1984.
(3) 50 Artistes de Belgique, par Jacques Collard, critique d'art, éd. Viva Press Bruxelles 1986.
(4) Art Information, éd. Delpha, Paris 1986.
(5) Who's who in Europe, éd. Database, Waterloo 1987.
(6) Who's who in International Art, international biographical Art dictionary, éd. 1987-1996, Lausanne, Suisse.
(7) Dictionnaire des Artistes Plasticiens de Belgique de XIXe et XXe Siècles – Editions Art in Belgium 2005.
(8) Artis Peintre Abe Alias A.Kohar Ibrahim dan Karya Lukisnya oleh Lisya Anggraini, Batam, Indonesia 2005.
Exposisi :
Sejumlah eksposisi individual maupun kolektif. Antara lain : Galerie Hendrik De Braekeler (Antwerpen, 1977). Galerie Rik Wauters (Bruxelles, 1977). Galerie Van de Velde (Gent, 1979). Les Arts en Europe (Bruxelles, 1979). Galerie APAC (Schaerbeek, Bruxelles, 1980). Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1980, 1987, 1990). Galerie Escalier (Bruxelles, 1980). Spectraal (Gent, 1981). Galerie Gouden Pluim (Gent, 1982). Galerie Erasme (Anderlecht, 1983, 1990). Galerie Schadow (Celle, RFA, 1986). Europa Bank (Gent, 1987, 1988, 1990). 50 Artistes de Belgique (Bruxelles, 1986). A.I.A.C. (Enghien, 1987). Spectraal (Nieuwpoort, 1988). Galerie Het Eeuwige Leven (Antwerpen, 1993). De Kreiekelaar (Schqerbeek 1997). Parcours d'Atistes (Commune de Schaerbeek, 1998). En Modus Vivendi (Oude Kerk, Vichte, 2003). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2004). Museum Haji Widayat (Magelang, Indonesie, 2004). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2006). Ruang Expo Balaikota Hotel Communale de Schaerbeek, Brussel 2007. Guilliaum & Caroline Gallery, Bruxelles 2008.
Sebagai Penulis:
Sebagai penulis, A. Kohar Ibrahim mulai banyak menulis prosa dan puisi serta esai atau kritik sastra dan seni sejak akhir tahun 50-an di beberapa media massa Ibukota, antara lain Bintang Timur, Bintang Minggu, HR Minggu, Warta Bhakti dan Zaman Baru. Setelah Era Reformasi, berkas-berkas karya tulisnya ada yang disiarkan di media massa cetak dan online. Anatara lain : Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, Majalah Gema Mitra, Majalah Budaya Duabelas (Penerbit : Dewan Kesenian Kepri), Cybersastra, Depokmetro.com, Swara.tv, Bekasinews.com, Art-Culture Indonesia, Multiply.
Dari tahun 1989-1999, selama sedasawarsa mengeditori terbitan yang tergolong pers alternatip, terutama sekali berupa terbitan Majalah Sastra & Seni « Kreasi » ; Majalah Budaya & Opini Pluralis « Arena » dan Majalah Opini « Mimbar ».
Sejumlah esai budayanya yang dibukukan, antara lain : "Sekitar Tempuling Rida K Liamsi », telaah buku kumpulan puisi Rida, terbitan Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004. « Identitas Budaya Kepri », terbitan Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang 2005. « Kepri Pulau Cinta Kasih », karya bersama Lisya Anggraini, Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam 2006. Berkas-berkas esai seni dan sosio-budaya lainnya berupa : « Catatan Dari Brussel : Dari Bumi Pijakan Kaum Eksil », « Sekitar Tembok Berlin : Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas » ; « Hidup Mati Penulis & Karyanya : Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu » ; « Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis », dan lainnya lagi.
Buku dan atau kumpulan tulisan bersama berupa kucerpen dan kupuisi, antara lain : Kumpulan cerpen « Korban » , penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, 1989.
Kumpulan puisi « Berkas Berkas Sajak Bebas », penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, Kreasi N° 37 1998.
Kumpulan esei bersama : « Lekra Seni Politik PKI », Stichting Budaya, Amsterdam, Kreasi N° 10 1992.
Kumpulan sajak bersama : « Puisi », Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 11 1992.
Kumpulan esei bersama : « Kritik dan Esei », Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 14 1993.
Kumpulan cerpen bersama: « Kesempatan Yang Kesekian », Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 26 1996.
Kumpulan sajak bersama : « Yang Tertindah Yang Melawan Tirani » I, Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 28 1997.
Kumpulan sajak bersama : « Yang Tertindas Yang Melawan Tirani » II, Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 39 1998.
Kumpulan sajak : « Di Negeri Orang », penerbit Yayasan Lontar Jakarta & YSBI Amsterdam, 2002.
Kumpulan tulisan bersama: Antologi Puisi Cerpen Curhat Tragedi Nasional 1965-2005, penerbit Sastra Pembebasan & Malka, 2005.
Kumpulan esai bersama : « Identitas Budaya Kepri », penerbit Dewan Kesenian Kepri Tanjung Pinang 2005.
Novel : « Sitoyen Saint-Jean – Antara Hidup Dan Mati », penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, 2008.
Kumpulan esai : « Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu », penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, 2008-09.
Kumpulan puisi : « Untukmu Kekasihku Hanya Hatiku », penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, 2008-09.
Kumpulan cerpen bersama Lisya Anggraini : « Intuisi Melati », penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, 2008-09.
Yang belum atau dalam perencanaan untuk dibukukan : Berkas berkas naskah kumpulan esai seni budaya, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, Nota Puitika (sebanyak 500-an) dan lain sebagainya lagi.
Simak : Kumpulan Kumpulan Tulisan. Yang melengkapi Biodata ini.
Lebih lengkap bisa disimak-lacak di beberapa situs, antara lain, sebagai berikut :
ABE-Kreasi Multiply Site : <http://16j42.multiply.com/journal/item/635/tag/biodata/>;
<http://painting.multiply.com/tag/abekreasi>
http://artscad.com/@/AKoharIbrahim/
Catatan : Nama asli, alias dan samaran. Sejak mulai melakukan kegiatan tulis menulis medio tahun 50-an, sebagai tanda-tangan digunakan nama asli A. Kohar Ibrahim atau lengkapnya : Abdul Kohar Ibrahim. Tanda-tangan untuk semua karya lukis : Abe. Sedangkan nama samaran atau pen-name : Aki, A. Brata Esa, Rahayati, Bande Bandega, DT atau Dipa Tanaera.***
Biodata ini melengkapi karya tulis AKI, terutama bagi pembaca yang belum mengenalnya, dan untuk pemerhati yang ingin mengetahui jejak langkah aktivitas-kreativitas A.Kohar Ibrahim.(AKI) ***