Sunday, September 30, 2012

A.Kohar Ibrahim: Di Singapura Makna Memakna Singa

A.Kohar Ibrahim: Di Singapura Makna Memakna Singa

A.Kohar Ibrahim :

 

 

Di Singapura Makna Memakna Singa

 

 

Di

Singapura

Makna Memakna Singa

Kini Di Sini Ini Kita

Menelusuri

Tepi Tasik

Temasik

Pangkalan Desa Nelayan

Berubah Dermaga Dunia

Sejak Mula Legenda

Sang Nila Utama

Sang Pendatang

Sang Pejuang

Anak Zaman

Melahirkan

Zaman

 

Sekarang

Kita Pun Datang

Tandang Pandang

Asyik Tasik Tumasik

Yang Baru Dari Dahulu

Jauh Tapi Dekat Selalu

Seperti Makna Memakna

Tasikmalaya

Seperti Makna Memaknai

Singapura Pun Singasari

Seperti Makna Memaknai

Kepahlawanan Kaum Singa

Singa Singa Anggun Perkasa

Semangat Juang Sang Nila Utama

Semangat Juang Sisingamangaraja

Teladan Kaum Pejuang Segala Zaman

Pantang Lelah Pantang Menyerah

Memaknai Kebebas Merdekaan

Hidup Kehidupan Manusia

Yang Hakiki

Yang Manusiawi

 

Kini Kita Di Sini

Daku Dan Dikau Kekasih

Di Ini Tepi Tasik Temasik

Dalam Mesra Senja

Daku Dikau Asyik
Mengungkap Kaji

Makna Singapura

Makna Singa

Makna Malaya

Makna Nusantara

Makna Tasik

Ah Asyiknya Kekasih

Seperti Sejuk Tasikmalaya

Agungnya Kekasih

Seperti Himalaya

 

Hati Pikiran Terusik

Dalam Makna Memakna

Singa Singa Asia

Singa Singa Eropa

Dalam Apresiasi

Adab Peradaban

Kaum Manusia

Sejagad

Dunia

 

(D09)

 

*

Catatan: Temasik atau Temasek atau Tumasek nama dahulu Singapura. Pemandangan perkampungan sekalian pangkalan nelayan Singapura zaman dulu seperti tasik atau danau. Singasari salah satu kerajaan zaman dulu di Nusantara. Tasikmalaya salah satu kota di Pasundan, Jawa Barat. Sisimangaraja Pahlawan Nasional Indonesia. Himalaya gunung tertinggi di dunia.

Petugas kalah pintar

From: hernawan

Pedagang Daging Busuk Wonogiri Lebih Pintar daripada Petugas

Selasa, 17 Agustus 2010 16:58 WIB

WONOGIRI--MI: Razia daging busuk atau berair di pasar-pasar tradisional Wonogiri di bulan Ramadan ini sering gagal. Soalnya, pedagang lebih pandai dalam melihat situasi atau gelagat gerakan aparatur penertib.

"Penjual lebih pandai dan cepat menyingkirkan daging semi gelonggong ketika petugas datang," ungkap Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan (Disnakperla) Wonogiri Ruli Pramono Retno usai mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke-65 di Alun-Alun setempat, Selasa (17/8).

Ia mengatakan, selama bulan puasa ini, petugas kalah pintar dengan pedagang daging. Penjual diyakini lebih cepat menyingkirkan daging yang bakal terkena razia saat petugas datang mengoperasi. Bahkan para penjual ini di depan petugas berani menjamin, kalau dagangan daging mereka sangat sehat dan kering serta layak dikonsumsi.

Yang jelas, lanjut dia, selama operasi razia atau penertiban, petugas belum pernah mendapati daging gelonggong di pasar-pasar tradisional. "Ada daging ayam semi gelonggong yang tidak keburu diselamatkan dan kami sita di Pasar Pracimantoro," imbuhnya.

Sebelum puasa, Disnakperla Wonogiri beberapa kali sempat menyita daging sapi atau daging ayam yang keberadaan kadar airnya di ambang batas normal. Sayangnya Ruli tidak bersedia menyebutkan jumlah volume daging tidak sehat atau busuk yang berhasil disita, kecuali hanya bilang sudah banyak.

Para pedagang meski mencoba meyakinkan petugas, namun pihak Disnakperla tetap memperingatkan, agar mereka tidak main-main di dalam menawarkan daging yang dijual. "Harus benar sehat, karena dari keluhan masyarakat, ada yang tingkat penggelontoran air saat penyembelihan sampai 50 persen. Ini jelas membahayakan kesehatan. Masyarakat harus pintar memilih daging, jangan asal murah lalu dibeli," tandas dia sekali lagi.

Soal ayam tiren/ayam mati bukan karena disembelih, Ruli menyebut belum menemukan bukti baru, pascapenemuan di Pasar Pracimantoro, yang jaraknya 40 km dari kota Wonogiri. Hal sama soal ayam suntikan belum ditemukan di Wonogiri.

Saat ini, Disnakperla tidak mungkin menutup arus daging masuk dari luar kota, karena kebutuhan rakyat Wonogiri sangat besar. Maklum, wilayah itu belum mampu mencukupi secara mandiri.

Suryani, pedagang daging di Pasar Wonogiri Kota, menyatakan, sampai hari perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-65, harga daging sapi masih sama dengan harga tahun lalu, yakni Rp60 ribu per kilogram. Harga diperkirakan akan naik pada dua minggu menjelang Idul Fitri. (WJ/OL-5)

Saturday, September 29, 2012

peribahasa orang IBI


From: "endah marty"

acara di jakarta minggu lalu salah satu sesinya diisi oleh orang IBI (ikatan bankir indonesia)...
jarene kasus MD di citibank sangat memalukan, sehingga peribahasa ini sangat cucok untuk menggambarkannya....

Akibat Susu Sebelanga....Rusak Nila Setitik....

hiks!

--

Friday, September 28, 2012

Tidak RELEVAN


---------- Forwarded message ----------
From: "adi" <hampala234@gmail.com>
Date: Dec 1, 2010 8:23 AM
Subject: Tidak RELEVAN
To:

From: A.Syauqi Yahya

Jika Politikus Menyerang Satgas

Rabu, 01 Desember 2010 | 01:21 WIB

SERANGAN politikus terhadap Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum sungguh merisaukan. Sejumlah politikus, terutama dari Partai Golkar, menuding upaya Satgas membongkar kasus Gayus H. Tambunan bermuatan politik. Bahkan seorang politikus dari Partai Persatuan Pembangunan mendesak agar lembaga itu dibubarkan.

Publik tentu bertanya-tanya, siapa yang sebenarnya bermanuver politik: para politikus atau anggota Satgas? Harus diakui, Satuan Tugas yang dibentuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini tak lepas dari kepentingan politik. Setidaknya, lembaga ini didirikan demi memenuhi tuntutan masyarakat agar pemerintah serius memberantas mafia hukum. Tapi, jika muncul tudingan bahwa Satgas dibentuk demi mendiskreditkan kelompok atau partai politik tertentu, jelas itu berlebihan.

Orang yang berpikiran sehat tentu membuka kemungkinan lain. Kalangan Golkar justru terkesan berusaha menyudutkan Satgas demi kepentingan mereka. Apalagi, politikus dari partai yang dipimpin oleh Aburizal Bakrie ini mempersoalkan kenapa hanya Grup Bakrie yang disorot dalam kasus Gayus.

Terdakwa kasus penyuapan penegak hukum itu memang pernah menyatakan bahwa sebagian duit miliaran rupiah miliknya berasal dari perusahaan Grup Bakrie. Kesaksian itu disampaikan bukan hanya kepada anggota Satgas, tapi juga polisi dan pengadilan. Ketika belum ada tanda-tanda kasus ini akan dibongkar, muncul lagi kasus baru: kaburnya Gayus ke Bali. Wajar bila Satgas, yang sebelumnya berhasil mendesak Gayus menyerahkan diri dari persembunyian di Singapura, kembali turun tangan.

Kasus Gayus yang diduga menyuap Kepala Rumah Tahanan Brimob untuk keluar dari tahanan memang telah diusut. Tapi sejauh ini tetap tidak jelas untuk keperluan apa terdakwa pergi ke Bali. Kepolisian terkesan tidak serius mengungkap hal ini.

Publik semakin kecewa karena sampai sekarang polisi juga belum menyentuh perusahaan-perusahaan yang diduga menyuap bekas pegawai pajak itu. Itu sebabnya, belakangan muncul tuntutan agar Komisi Pemberantasan Korupsi mengambil alih kasus Gayus yang belum terbongkar.

Jika para politikus ingin mendorong penuntasan kasus Gayus secara hukum, mestinya masalah itulah yang disoroti. Sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat, mereka bisa mendesak polisi menuntaskan penyelidikan kasus ini atau mendorong KPK turun tangan. Dengan cara ini pula, jika ada sederet perusahaan lain yang diduga menyuap Gayus, mereka bisa diusut.

Mempersoalkan peran Satgas sungguh tidak relevan, apalagi sampai mendesak agar lembaga ini dibubarkan.

http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2010/12/01/krn.20101201.219745.id.html
--

Thursday, September 27, 2012

luntur dalam waktu 3 detik


From: <syauqiyahya@gmail.com>



Candai Ahok, Lelucon Nara Jadi Bumerang

Oleh: Dearmarintan | 16 September 2012 | 21:57 WIB


Saya sedikit terlambat saat menonton acara Debat Cagub DKI Jakarta di Metro TV malam ini yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB. Namun, saat menonton acara tersebut, betapa kagetnya saya ketika menyaksikan lelucon tak lucu yang dilontarkan Nara kepada Ahok, rivalnya dalam merebut posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta.
"Haiyah, Ahok, haiyaaahhhh…" ujar Nara, sebelum membuka opininya, kalau saya tidak salah tentang manajemen transportasi (MRT dan Transjakarta).
Wajah Ahok terlihat terkejut, namun dia berhasil tetap tenang menghadapi candaan Nara. Purnawirawan yang juga Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta itu pun melanjutkan dengan nada bercanda, "kita kan sodala ya, sodala..".
Betapa herannya saya dengan lelucon yang dilontarkan oleh Nara itu. Entah apa tujuannya. Apakah memang sekadar bercanda? Atau memang sengaja dituturkan untuk menyudutkan ke-China-an Ahok di mata publik? Lupakah Nara bahwa warga Jakarta terdiri dari beragam etnis? Atau bila memang pemilih prioritas mereka adalah warga Betawi, apakah Nara terlalu naif dan tidak menyadari bahwa warga Betawi pun memiliki sejarah dan garis keturunan yang sangat dekat dengan etnis China?
Masih segar dalam ingatan saya tentang berita hari ini yang mengabarkan kunjungan Foke ke Klenteng Dharma Bhakti. Foke menjanjikan untuk mendirikan China Town yang diberi nama sesuai sastrawan China, Kwee Tek Hoay. Ini jelas merupakan salah satu langkah dalam menghapus opini publik tentang bau SARA yang kental dalam beberapa kampanye cagub petahana tersebut. Sebuah langkah yang saya akui positif dan berpotensi untuk merebut suara warga Tionghoa.
Sayangnya semua usaha Foke sepertinya luntur hanya dalam waktu 3 detik saat Nara, wakil yang digandengnya dalam pilkada kali ini, mencandai Ahok demikian. Bila saya yang bukan etnis China saja tidak suka dan eneg melihat gaya bercanda Nara, apalagi warga Jakarta keturunan yang disindirnya? Sungguh sebuah blunder yang sangat disayangkan terjadi dan malah semakin mempertajam opini banyak orang bahwa cagub-cawagub tersebut memang rasis dan tidak menghargai perbedaan.

--

Foke Galau Abiiisss


From: <syauqiyahya@gmail.com>


Jokowi Kawin Lagi dengan PKS, Foke Semakin Galau

Oleh: Partoba Pangaribuan | 15 July 2012 | 09:42 WIB

Jokowi menyambangi Hidayat mantan peserta PILKADA DKI 2012 yang gagal di putaran pertama. Hidayat adalah tim sukses Jokowi ketika mencalonkan diri menjadi walikota di Solo. Hidayat dipastikan akan mendukung kembali Jokowi di Ibukota negeri ini. Apakah konstituen PKS yang dikenal solid dan jumlah riil juga akan diboyong seluruhnya unt memilih Jokowi.

Jika itu bisa dijamin, baiknya FOKE mengaku kalah atau mundur saja daripada buang anggaran & energy unt melanjut ke putaran ke 2. Karena Jika 42% pemilih Jokowi di putaran 1 + pemilih Hidayat yg jumlahnya 11%. Kemungkinan Jokowi akan memperoleh jumlah suara minimal 53%. Sekalipun suara dari seluruh calon yg gagal diarahkan ke FOKE, dipastukan FOKE kalah.

Apalagi jika suara abstain/goput turun "gunung" ikutan milih. Akan semakin telak kekalahan Foke. Karena para golongan putih yang cenderung dari kalangan menengah, terdidik, oportunis, elit yg sesungguhnya paham atau melek politik dan memiliki kecenderungan memilih calon yang memiliki reputasi atau pencitraan baik.

Tetapi penulis memprediksi, Foke akan bertempur sampai putaran ke dua karena faktor penasaran dan ketidak relaan melepaskan jabatanya. Dan akan ada kemungkinan munculnya cara-cara curang. Sebab Foke saat ini dalam kondisi galau tingkat tinggi.
Selamat menjadi mantan Gubernur DKI ya bung Foke. Dari penulis sebagai warga DKI yang sudah 25 tahun berdomisili di DKI. Dan semoga 'perkawinan' Jokowi dengan Hidayat dapat mewujudkan Jakarta Baru yang lebih kondusif.

--

HAJAT BESAR MERAPI 2010

From: Haryono


---------- Forwarded message ----------

Dear all,
 
berikut ini saya kutipan tulisan (saya lebih cocok refleksi) dari seorang romo yang berkarya di lereng merapi, yaitu romo V. Kirjito, yg boleh dibilang begitu mencintai alam merapi dan masyarakat beserta budaya disana.
Menurut hemat saya, dalam situasi yang berbahaya, ia masih sempat memberikan pandangannya (narasinya) kepada kita semua.
Beberapa kisah lainnya silakan di lihat di situs www.egmca.net
Semoga tulisan romo V. Kirjito memberikan pencerahan bagi kita khususnya dalam menyikapi alam dan juga kearifan lokal
 
http://www.egmca.net/hajat-merapi-2010/
 
Awas Merapi!
Ini language games ilmuwan geologi Gunung Merapi Senin 25 Oktober 2010.
Merapi punya "Hajat Besar" (Ewuh) demikian bahasa kultural nenek moyang Lereng Merapi.
Di saat itu, begitu banyak orang dari berbagai latar belakang berada di wilayah terdekat Gunung Merapi dengan aneka kegiatan yang tidak seperti biasanya.
Anak-anak, perempuan, orang-orang lanjut usia, laki perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah menuju tenda-tenda darurat di lapangan dan gedung-gedung yang disulap menjadi tempat mereka menjalani kehidupan yang disebut mengungsi. Saya lebih senang menggunakan istilah menyingkir,
"nisih" sementara dari kesibukan besar Alam G. Merapi.
 
Tanggal 26 Oktober 2010 sore hari G. Merapi mengekspresikan kesejatiannya memamerkan isinya yang oleh geolog disebut magma vulkanis.
Masyarakat biasa menyebut hujan abu.
Kali ini hujan abu dan pasir bahkan kerikil hingga sebesar kuku ibu jari orang dewasa.
Dan yang khas Merapi adalah pertunjukan Wedhus Gembel atau awan panas.
 
Layaknya orang punya hajat, kesibukan tuan rumah berlangsung sepanjang hari bahkan sepanjang malam.
Tamu berdatangan dari berbagai kalangan dengan segala oleh-oleh di tangannya.
Potret sana potret sini, video sana video sini, jabat tangan senyan-senyum.
Dari kaca mata hidup normal manusia yang mengidentikan harmoni adalah hidup tanpa ketegangan, Hajat Besar Merapi 2010 ini diberi julukan besar Bencana Alam Merapi.
Insan televisi Indonesia menjadikannya panggung prestasi heroik berekor rejeki iklan.
Insan-insan sahaja budaya Tani Lereng Merapi malakoni ritual pengorbanan untuk memohon kesuburan pada beberapa bulan dan tahun ke depan.
Mereka ikhlas tidak melakukan pekerjaan menanam,
merawat hingga memanen berminggu-minggu.
Mereka juga tidak iri jika partai dan LSM panen titipan sumbangan dari dermawan dan mendadak menjadi dewa-dewi penolong.
 
Hajat Besar Kyai Petruk, begitu bahasa personifikasi nenek moyang budaya Merapi menyebutnya, akan berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ke depan.
Jangan dilupakan Hajat Besar Merapi 2010 ini telah juga mengirim kekayaannya berupa abu Merapi ke tiga penjuru mata angin.
Ke barat – Muntilan – Borobudur dst, — arah selatan yaitu DIY, ke timur yaitu Klaten, Surakarta, Boyolali.
Dan nampaknya hari ini, 2 Nopember akan mengirim ke arah utara, — Salatiga, Ungaran hingga Semarang.
Mungkin juga tidak mendapatkan karena Semarang sudah lebih dahulu mencuri berjuta-juta m3 pasirnya sebelum Merapi punya Hajat Besar 2010 ini. / V. Kirjito
 
http://www.egmca.net/dan-kamipun-akhirnya-turun-%e2%80%a6/
…………..
Ditengah deru debu vulkanik sebuah sms menarik dari Pak Longgar yang merupakan petani muda, suatu sudut pandang dari merapi yang sedang hajatan, sebuah suara yang memandang hajat Merapi merupakan sebuah reinkarnasi kesuburan tanah.
 
Merapi ……
 
dengan lahar panas
dengan awan panas
dengan wedus gembel dan hujan abumu.
Kini kau tumpahkan segala kedashyatanmu.
Semua makhluk yang mendengar dentuman letusanmu
dan memandang deru laju kaki"prajuritmu, kau buat bergetar kengerian di dalam hatinya"
 
Merapi kau menguncang dunia….
Merapi kau menguncang ji…wa…
setelah semua reda
semua kan menjadi sebuh kesuburan
kan menjadi sebuah keindahan
akhirnya nenjadi kehidupan yang benar hidup
yang akan menghidupi
 
Kami semua menunggu situasi, menunggu Merapi yang bersahabat, kami semua rindu dengan keanggunan dan keramahan Merapi.
Ijinkanlah kami sejenak beristirahat.
 
--