Thursday, October 11, 2012

Masih ada yg memuja2 iran lagi?

TEHERAN, KOMPAS.com
"Mampuslah diktator!" Begitu teriakan
para demonstran di Teheran, ibu kota
Iran, Rabu (3/10) lalu. Mereka
menentang Presiden Mahmoud
Ahmadinejad.
Luapan kemarahan publik yang
terbilang langka terhadap Mahmoud
Ahmadinejad itu terjadi menyusul
pemogokan para pedagang valuta
asing dan pedagang pasar terkait krisis
keuangan di Iran. Kamis kemarin,
jalan-jalan kota itu dipenuhi polisi
antihuru-hara. Pemerintah telah
bertekad untuk tidak membiarkan aksi
seperti itu terjadi lagi.
Kondisi kemarin kontras dengan
adegan dua hari lalu ketika bank-bank
dan sejumlah bangunan umum dirusak
dalam bentrokan dengan polisi saat
para demonstran menyalahkan
Ahmadinejad atas keterpurukan
ekonomi yang terjadi.
"Anda tak tahu malu, Mahmoud,
tinggalkan politik!" pekik para aktivis
itu, seperti ditirukan sejumlah saksi
mata.
Namun, kebanyakan toko di pasar
utama Teheran sudah dibuka kembali,
Kamis, dan tidak ada kerusuhan yang
dilaporkan.
Nilai tukar riyal, mata uang Iran, yang
terjungkal, telah memunculkan
pertanyaan tentang kesehatan
ekonomi Iran dalam menghadapi
sanksi ketat internasional terkait
program nuklir Ahmadinejad. Musuh-
musuh Ahmadinejad mengklaim
bahwa program nuklir itu telah
menempatkan Iran dalam kekacauan
keuangan.
Nilai riyal merosot hampir 40 persen
terhadap dollar AS dalam sepekan
terakhir. Kamis kemarin, nilai riyal
sekitar 32.000 per dollar AS, sedikit
lebih tinggi dari rekor terendah pada
awal pekan ini.
Dalam sebuah konferensi pers pada
Selasa, Ahmadinejad menyalahkan
jatuhnya riyal pada "tekanan
psikologis" terkait sanksi-sanksi Barat.
AS telah memperketat sanksi
perbankan terhadap Iran. Uni Eropa
telah melarang impor minyak Iran
setelah adanya kekhawatiran atas
program pengembangan nuklir Iran.
Rezim Islam itu menyangkal bahwa
pihaknya berencana membuat senjata
nuklir dan berkeras bahwa pengayaan
uraniumnya hanya untuk tujuan
damai.
Menlu AS Hillary Clinton, Selasa,
mengatakan, para pemimpin Iran
memang harus bertanggung jawab atas
masalah-masalah ekonomi. "Mereka
telah membuat keputusan mereka
sendiri, tidak ada hubungannya dengan
sanksi, yang telah berdampak pada
kondisi ekonomi dalam negeri," kata
Hillary. Ia menambahkan, efek sanksi
bisa cepat diperbaiki jika pemerintah
Iran bersedia bekerja sama dengan
masyarakat internasional "dengan cara
yang tulus".
Sejumlah warga Iran yakin bahwa
pemogokan dan protes itu tidak
spontan, tetapi didalangi para politisi
konservatif dan pengusaha yang
menentang Ahmadinejad. Perebutan
kekuasaan itu terjadi menjelang
pemilihan presiden yang berlangsung
pada Juni tahun depan.
Inflasi di Iran saat ini mencapai 23,5
persen dan pengangguran mencapai
28,6 persen. Demikian menurut para
ekonom negara itu.

No comments:

Post a Comment