Sunday, February 19, 2012

Amplop

From: bima ardianta

PAIMAN dan PAIMO

PAIMAN dan PAIMO yang bekerja di dua media massa yang berbeda, sore itu, sedang ngobrol soal gaji. Lalu, cekakak cekikik seperti orang tidak punya beban hidup. Tapi boleh jadi, itulah cara mereka menghibur diri saat susah.

Paiman seorang koresponden media nasional yang dibayar per berita oleh redaksi. Walau begitu, dia masih tergolong taat kode etik jurnalistik, antara lain tidak menerima amplop dari narasumber. Sedang Paimo seorang wartawan media lokal yang berstatus pegawai tetap dengan gaji di bawah UMR.

"Jadi, alasan elu nyari amplop tiap liputan itu karena gaji kecil ya Mo," kata Paiman sambil pesan kopi di warung.

"Begitulah, Man. Emang ngehek ini kantor, gaji segitu terus," kata Paimo.

"Lha apalagi gw, Mo. Gw tidak bergaji Mo, dibayar per berita. Kalau tulisan dimuat, baru dibayar. Tapi kok gw tetep malu kalau nyari-nyari amplop kayak elo, Mo," kata Paiman.

"Tapi, kan berita elu sering dimuat, Man. Honor elu juga gede banget kalau dihitung-hitung per bulan," ujar Paimo.

"Enggak juga sih, Mo. Soal amplop, menurut gw soal mental," kata Paiman.

"Ah, bodo-lah, Man. Bos-bos ane juga 'main' juga. Bose lo paling juga main. Eh, selama gaji gw kecil segini, gw akan tetep terima amplop. Emang idealis bisa ngasih makan, apa," jawab Paimo.

Paimo menambahkan, "Gini, Man. Kalau seandainya gw nanti diterima di media yang gajinya gede, baru deh, gw berenti nyari amplop. Malu, masa gaji gede masih nyari jale."

Obrolan Paiman dan Paimo tidak berlanjut lagi, karena hujan akan turun sebentar lagi. Mereka buru-buru menghidupkan sepeda motor untuk pulang ke rumah masing-masing.

***

Setahun kemudian, ternyata, Paimo diterima kerja di media nasional. Gajinya tergolong besar untuk ukuran pendapatan wartawan saat itu. Hampir semua jurnalis yang kerja di daerah itu ngiler dengar angkanya, termasuk si Paiman.

Dan tiga bulan kemudian, para wartawan diundang untuk meliput acara peresmian proyek. Semua hadir karena ini event penting.

Usai, acara, Paimo tidak segera pulang. Dia sibuk bersama tiga teman dekatnya. Rupanya, dia mencari humas acara. Usut punya usut, ternyata dia ingin mengambil amplop yang kabarnya sudah dijatah panitia.

Paiman masih ingat dengan janji Paimo yang katanya sudah tidak akan cari amplop setelah punya gaji gede. Paiman pun ingin tahu kenapa bisa begitu.

"Ya gimana ya, Mo. Susah ngilanginnya sih ternyata… Hahahhaha….," kata Paimo sambil melengos. "Ah, rese lu, Man, nanya-nanya itu, jadi malu gw, hahahhahah…."

Tak hanya hari itu saja, Paimo tertangkap basah oleh Paiman sedang asyik mencari jale di saat bertemu panitia. Malah, agaknya Paimo makin parah.

Entahlah. Mungkin karena keinginan untuk hidup lebih baik, bisa membuat orang agak lupa. Tapi bisa jadi si Paimo sebenarnya sedang menggugat, apalagi dia pernah bilang kalau bos-bosnya yang gajinya berlipat pun tidak terlalu peduli kode etik jurnalistik dengan rupa-rupa alasan.

http://singkatcerita.blogspot.com/2011/01/paiman-dan-paimo.html
 
 
WARTAWAN AMPLOP dan BOS MEDIA

SEORANG wartawan senior bicara menggebu-gebu di sebuah warung kopi. Katanya, jika saja semua perusahaan media mengupah secara layak jurnalisnya, maka hal ini bisa mencegah wartawan menerima atau meminta amplop. Bahkan, bisa mengantisipasi mereka agar tidak nyambi jadi makelar kasus.

Wartawan yang menerima suap, amplop, makelar kasus, ataupun hal-hal yang diharamkan oleh kode etik profesi wartawan, pemicu utamanya ialah rendahnya upah yang mereka terima dari perusahaan, ujar si senior itu.

Ia semangat sekali bicara soal upah layak bagi para jurnalis. Bahkan, ia menyebutkan satu persatu media yang upahnya layak, kurang layak, tidak layak, sampai media yang tidak mengupah wartawannya sama sekali. Wartawan yang tidak diupah oleh kantornya, biasanya disuruh cari iklan, jual koran, atau cari uang dari narasumber.

Setelah si senior selesai bicara, temannya gantian bicara. Sepertinya ia tidak puas dengan apa-apa yang disampaikan oleh si senior. Menurutnya, menyoroti masalah kewartawanan harus lebih luas lagi.

Apakah kalau kemudian semua wartawan diberi upah layak, terus hal itu dapat menjamin mereka tidak melakukan pelanggaran kode etik lagi? Kenapa kode etik seolah-olah hanya menyoroti wartawan di lapangan?

Ia menyontohkan, bos media tempatnya bekerja. Bosnya bergaji besar. Tapi, masih saja cari proyek dengan memanfaatkan pengaruhnya sebagai wartawan, memanfaatkan medianya.

Lalu, si bos media yang juga wartawan itu ternyata punya semacam kesetiaaan khusus dengan pemodalnya. Yaitu, media ini tidak akan mengutak-atik kasus-kasus yang dilakukan pemodal, seburuk apapun, sepenting apapun.

Kalaupun suatu hari menulis kasus (karena media menulis terus di halaman utama) yang menjerat pemodal, tentu saja bos media ini memerintahkan awak redaksi agar menulis secara sopan atau berusaha mengangkat dari sisi baik dari perusahaan saja. Kalau perlu, data-data kasus yang menjerat sang pemodal tidak usah dituliskan. Bagaimana?

Beberapa wartawan yang sedang duduk-duduk di warung kopi terdiam ketika mendengar statement itu, terutama si wartawan senior tadi. Agaknya, si senior masih butuh perenungan untuk menjawabnya dengan baik.

http://singkatcerita.blogspot.com/2010/10/pertanyaan-buat-wartawan.html
--

No comments:

Post a Comment