Sunday, February 12, 2012

Menemukan Diri?: Bagaimana Saya Menulis Buku Writing Toolbox (19)

From: hernowo hasim

Menemukan Diri?: Bagaimana Saya Menulis Buku Writing Toolbox (19)
Oleh Hernowo
 
Oliver Wendell Holmes
Orang melakukan perjalanan jauh dan sukar untuk bertanya-tanya tentang seberapa tinggi gunung yang kukuh berdiri menembus langit itu, seberapa besar ombak yang menghempas lautan, seberapa berkelok-keloknya sungai yang mengalir membelah kota, seberapa luas bentangan savana itu, seberapa indah dan cemerlangnya gerakan dan kerlap-kerlip bintang di langit; namun ketika mereka melewati diri sendiri mereka malah tidak bertanya-tanya.
—ST. AUGUSTINE
 
Setiap kali saya menulis, saya tentu mengawalinya dengan bertanya: Apa yang ingin saya tulis hari ini? Apakah materi yang ingin saya tulis hari ini merupakan materi yang menarik, yang membangkitkan semangat dan gairah saya menulis? Mengapa saya menulis dengan memilih materi ini dan bukan materi itu?
 
Kegiatan bertanya itu dahulu saya anggap sebagai salah satu cara untuk bisa langsung menuliskan sesuatu di layar komputer. Sebab, jika saya tidak segera menuliskan sesuatu, pikiran saya akan buntu dan sulit menemukan materi yang akan saya tulis. Dengan bertanya, selain pikiran pun bergerak, di layar muncul sederet tulisan.
 
Pertanyaan-pertanyaan yang mengawali tulisan saya itu tidak lantas harus saya jawab. Sekali lagi, pertanyaan itu hanya saya manfaatkan untuk mengisi layar agar tidak kosong dan, terutama, untuk menggerakkan pikiran. Ketika saya menemukan kata-kata St. Augustine, barulah saya menyadari betapa pentingnya bertanya kepada diri sendiri.
 
St. Augustine
 
Kata-kata St. Augustine menjadi sangat bermakna bagi diri saya saat ini setelah saya mempersepsi kegiatan menulis sebagai kegiatan menggali—menggali diri saya. Saya ingin menggali diri saya untuk melihat dan kemudian menemukan diri saya. Pertanyaan yang penting untuk saya jawab saat ini adalah apa kriteria bahwa saya berhasil menemukan diri saya?
 
Sebagaimana jawaban saya kepada seseorang yang bertanya tentang dari mana mesti memulai kegiatan menulis buku—lihat tulisan saya sebelum ini—dan jawaban saya adalah mulailah dari diri Anda sendiri. "Diri yang mana?" Diri yang menyimpan pengalaman-pengalaman yang mengesankan.
 
Menemukan diri, bagi saya, adalah ketika saya dapat terhubung dengan diri saya yang menyimpan pengalaman-pengalaman menarik dan mengesankan. Jika keterhubungan itu semakin kuat, saya merasakan ada dorongan hebat untuk terus mengeksplorasi diri saya. Jika saya tidak dapat terhubung dengan diri saya, kegiatan menggali itu pun loyo.
 
Menemukan diri, berpijak pada pengalaman-pengalaman saya, juga bisa berarti saya merasa senang dengan keadaan diri saya saat itu. Saya seperti menemukan sisi-sisi baik kehidupan saya. Ketika saya menulis, saya dengan enak dan lancar mengalirkan sisi-sisi yang baik itu. Keadaan itu masih ditambah dengan semangat dan gairah yang membara yang membuat kegiatan menulis menjadi sangat mengasyikkan.
 
Itu semua membuat saya percaya diri dalam menulis!
 
Hampir senada dengan kata-kata yang disampaikan oleh St. Augustine,  seorang pengarang asal Amerika Serikat yang hidup pada abad ke-19, Oliver Wendell Holmes, Sr., menunjukkan kepada diri saya betapa hebatnya yang dikandung oleh sang diri itu: "Apa yang ada di hadapan kita dan apa yang ada di belakang kita hanyalah hal-hal kecil jika dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita."[] 

--

No comments:

Post a Comment