Saturday, February 18, 2012

Puasa of the day : Kesenian Islam Berkembang Di Luar Saudi Arabia


From: L.Meilany

Kesenian Islam Berkembang Di Luar Saudi Arabia

Kesenian Islam tidak berkembang di negeri asal agama Islam, Saudi Arabia.
Tetapi di negeri-negeri yang ditaklukan oleh bangsa Arab, seperti Siria, Persia (Irak), Afrika Utara,
Spanyol dan Mesir di zaman pemerintahan keluarga Fatimiyyin (Dinasti Fatimah).
Yakni raja-raja Islam keturunan Fatimah puteri Nabi Muhammad SAW; yang berkedudukan
di Afrika Utara (910-1171). Mesir direbut pada tahun 969, lalu Mekah dan Madinah dan kemudian
Damaskus pada tahun 988.
Tiga abad sesudah lahirnya agama Islam.

Dalam abad-abad itu timbullah suatu kesenian yang dapat disebut kesenian islam.
Sedang dimasa berikutnya, jakni setelah dunia Islam terpecah-belah, kesenian dalam tiap-tiap
negeri menjadi lebih bercorak nasional-Islam. Yakni paduan unsur kesenian dalam negeri/tradisional
dan Islam.

Oleh karenanya kesenian islam dapat dibagi sebagai berikut :
Seni Fatimiyyin di Mesir, seni Islam-Persia, seni Osmanli di Turki dan seni Habsyi di Spanyol dan
di Afrika Utara.
Yang unik dari kesenian Islam adalah, bahwa kaum yang mempopulerkan bukanlah kaum ulama,
melainkan kaum raja, pembesar yang menyuruh mendirikan masjid-masjid serta menghiasinya.
Berhubung pelukisan makhluk hidup, terutama manusia ditabukan/tidak disukai, maka seni
menghias itu condong kearah seni abstrak dan mementingkan segi simetrisnya saja.
Misal tampak dalam pelukisan dunia flora dan fauna.

Seni pahat dan seni lukis pada permulaannya tidak sempat berkembang, kecuali di Persia(Irak) dan India.
Di kedua negeri inilah seni miniatur menjadi masyhur. Jadi para seniman di zaman itu membuat
arsitektur masjid, istana, benteng, rumah-rumah dengan bentuk lengkung-lengkung, kubah
dan lainnya, menurut ilmu bangunan dan sebagian secara ornamental - dengan mementingkan 
gambar-gambar abstrak yang natural dan geometris (berupa lingkaran, segitiga, bujursangkar).

Kemudian ditambah pula dengan hiasan pada mosaik batu bata, stucco dan faience/faenza,
berupa tulisan Arab jenis Kufi dan Naskhi.
Sedikit informasi tulisan Kufi adalah tulisan Arab yang bersifat dekoratif, dipakai dalam naskah Al Qur'an
kuno dan pada mata uang kuno serta banyak digunakan pada tulisan di inskripsi/prasasti yang dikutip
dari Qur'an semasa dinasti Ummayyah dan Abbasiyyin: 660 - 750 dan 750 - 1258.
Tulisan Naskhi adalah tulisan Arab yang miring -kursif, terutama dipakai untuk tulisan ayat Qur'an
sebagai hiasan di masjid; di Persia (Irak) digunakan sejak +/- tahun 1100 untuk inskripsi yang berupa arabesk,
yakni motif perhiasan yang terdiri dari dari garis-garis, lajur-lajur, daun-daun, bunga-bunga.
Motif ini kemudian juga dikutip oleh kesenian Renaissance berapa abad kemudian dan dikembangkan
terus hingga kini terutama pada disain interior: permadani, keramik, misalnya.

Monumen yang  berasal dari arsitektur ketiga abad pertama Islam itu tinggal sedikit yang tersisa,
yakni beberapa masjid, misal Ka'bah, Al Fustaat, masjid di Jerusalem, Damaskus; juga bekas
kerajaan Ummayyah di Yordania Timur yang banyak dihiasi dengan lukisan dan mosaik, yakni lapisan
pada dinding atau lantai yang terdiri dari dari berbagai kepingan batu, kaca, email, terakota atau kayu
berwarna yang letaknya diatur menurut suatu pola yang geometris.

Seni ukir kayu banyak diusahakan terutama di Mesopotamia (Irak) dan Mesir misalnya untuk mimbar-mimbar.
Keramik juga penting sekali artinya bagai perhiasan dinding dan sebagai barang yang dipakai sehari-hari.
Di Mesopotamia pada abad ke-9 orang berhasil membuat glasir pengilap untuk meniru kilap logam.
Di duga, sejak dulu kala telah ada industri permadani, tetapi tak ada bekas-bekasnya sampai pada
kita di masa sekarang begitu pula hasil teknik tenunannya. -[lm-09/11]
(dari berbagai sumber)
------------------------------------------------------------------------
l.meilany
040811/04ramadhan1432h

No comments:

Post a Comment